Beberapa bulan ini terasa semakin melelahkan.
Lebih banyak ke arah kecewanya sih. Dari pekerjaan, relasi dengan teman, relasi dengan yang terkasih, sampai dengan diri aku sendiri. Aku gak bisa memutuskan mana yang menjadi pangkal dari semua rasa tidak menyenangkan ini. Aku coba mengidentifikasi, tapi tidak berhasil. Ternyata konseling itu tidak bisa dilakukan sendiri ya hehe. Aku berniat sih untuk mencari pertolongan, tetapi aku merasa lelah. Aku gak tau apakah ini udah lampu kuning atau malah lampu merah, yang seharusnya udah mendapatkan "perawatan".
Ada hal yang paling menyesakkan. Aku rasa aku udah memberikan 100% usaha dan perhatianku. Tapi, ternyata gayung tidak bersamput, maka airnya yang bludak kemana-mana. Kenyataan pahit, yang sudah berjalan berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Selama ini aku denial aja merasa kalau itu semua biasa aja dan wajar. Tetapi, semakin diwajarkan, maka semakin tidak masuk akal. Ini udah sampai di titik batas kesabaran aku. Meskipun udah sampai titik batas, tapi aku masih dibaluti dengan rasa kasihan. Rasa kasihan ini yang selalu jadi oknum brengsek yang merepres semua perasaan marah dan kesal. Harusnya gak kaya gitu; Harusnya aku marah; Harusnya aku sembur dengan kata-kata tidak pantas; Harusnya aku hantam sampai lehernya geser, tetapi... Aku kembali ke setting-an default. Menerima dan menganggap hal itu wajar.
Wajar...