Ada sih keinginan untuk beli ini, beli itu, mau ambil ini, ambil itu, dan masih banyak lagi. Tapi, akhirnya balik lagi ke hal-hal otomatis keseharian yang bisa dibilang membosankan... atau bahkan melelahkan.
Datang ke sesi konseling adalah suatu hal yang tidak tabu bagiku. Meskipun latar belakang pendidikanku psikologi, tapi aku butuh sudut pandang dari orang-orang asing tapi tetap profesional. Aku masih menjadi orang yang menahan semua, memilih tidak menceritakan masalah yang lebih mendalam, meskipun dengan rekan/teman/sahabat. Aku masih berpikir memang perlu ada batasan. Biasanya, sekalinya aku membuka, aku yang akan (merasa) terluka. Jadi, I prefer not to say anything deep for personal safe.
Kali ini aku mendatangi sesi konseling atas undangan yang diberikan dari pihak kantor. Memang kantorku punya layanan konseling bagi pegawainya. Memang daftar tunggunya cukup panjang, yang aku ingat, aku harus menunggu sekitar kurang lebih 3 bulan dari waktu pendaftaran. Sebenarnya aku bisa mendaftarkan diri di layanan konseling luar kantor, tapi aku selalu berpikir akan membutuhkan effort yang lebih tinggi. Pada akhirnya aku sedikit demi sedikit menjadi birokrat: Baru jalan kalau ada pemanggilan/surat tugas. That's the last things that I really afraid that I will be, and here I am. Slowly becoming a commoner. That's fine tho. But, yeah, I become another commoners/walking dead...