Februari 24, 2026

A Better Life

 These days, I cried a lot.

Entah kenapa lagi gampang banget nangis. Kesenggol dikit, nangis. Liat ini, nangis. Liat itu, nangis. Dari kecil emang terkenal cengeng. Jadi, mungkin semua itu tetep kebawa sampe sekarang, meskipun sekarang terlihat lebih strong (gak kinyis-kinyis) dibandingkan dulu.

Banyak hal yang aku tangisin. Setiap hal kecil. Setiap hal besar. Dari liat di reels ada ibu tua lumpuh ngekos sendiri, suaminya jarang jenguk. Suami bawa martabak sebagai sajian ulang tahun untuk istri. Anak kecil dimandiin sama ayah. Anak perempuan yang peluk perempuan asing yang ternyata mirip sama mendiang ibunya. Kaya semuanya bisa bikin aku nangis. Belum lagi hal-hal lain yang lebih personal. Orang dengan muka tampan. Orang dengan badan sehat. Orang yang liburan. Orang yang punya baju-baju bagus. Itu juga bikin sedih. Kadang bertanya sih kenapa ya aku dikasih badan yang gampang sakit. Gak bisa ini. Gak bisa itu. Gak punya ini. Gak punya itu. Tapi, terus balik lagi nangis kalau liat ada reels orang yang gak cukup apa-apa. Semuanya bikin hati ga enak. Gak tau deh. Rasanya capek aja. Ditambah lagi kalau liat temen update di tempat kerjaan, dengan teman, dengan atasan, dengan pekerjaannya. Sedih juga. Rasanya semua ga berjalan sesuai dengan apa yang bikin aku senangi. Aku masih meyakini kalau semua udah ditakdirin sama Allah. Cuma kok rasanya sakit terus ya buat aku dari aku kecil sampe sekarang? Belum lagi kalau misalnya ngederin cerita Mamah tentang hidupnya, tentang penyesalannya, tentang apa yang mungkin bisa dia achieve di kehidupannya, itu juga bikin sedih lagi.

Seringnya aku bertanya, apakah ada kehidupan yang lebih baik, yang lebih sedikit kesedihan di dalamnya? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menurutmu gimana?