Januari 26, 2023

Rehat

It's been a tough years.

Dua tahun terakhir berat. Tahun lalu aku sempat bilang kalau aku merasa mentally drained. Tahun kedua makin parah. Akhirnya, ku simpulkan kalau dua tahun terakhir memang berat.

Hari ini aku ngerasa di puncak keberatan itu.

Semua ini berat. Sampai aku merasa sangat kecewa sama hidup. Aku tahu, aku gak boleh nyalahin hidup, karena (secara agama) ya hidup itu anugerah. Tapi kalau berat seperti ini, apakah anugerah?

Tahun lalu, di saat aku meyakini hidup berat, aku menemukan satu hal yang membuat aku untuk bangkit lagi: olahraga. Aku bukan tipe orang maniak olahraga dari dulu. Waktu sekolah, kalau ada pelajaran olahraga, aku akan sesegera mungkin menyelesaikan pelajaran tersebut dan kembali ke kelas. Dasarnya aku gak suka berkeringat. Sampai titik dimana aku menikmati berkeringat.

Di Bandung. Kelas Body Balance menjadi titik balik aku menyukai berkeringat. Sejak saat itu, aku mulai mencoba banyak kelas: Body Combat, Zumba, Yoga, dan banyak kelas-kelas lainnya. Aku gak angkat beban karena aku ga berminat dan pernah suatu waktu aku pakai bonus free personal trainer satu pertemuan, berakhir aku rebahan di lantai gym dengan kaki mengangkat di atas gym ball. Selemah itu aku dengan olahraga yang menuntut endurance.

Dan ya, akhirnya aku kembali rutin berolahraga. Aku beli beberapa baju dan celana olahraga baru, dan mumpung diskon juga pada masanya. Aku sangat menyukai Yoga, karena bisa membuat aku menjadi lebih relax. Aku beli beberapa yoga mat, dari yang tipis dan tebal. Tidak sedikit aku merogoh kocek untuk membeli mat yang berkualitas tinggi (dan tentunya bermerk). Yoga menjadi salah satu pelarian hidupku saat itu, sampai aku rela bawa mat tebal setiap hari dari kosan, kantor, tempat gym, dan balik ke kosan. It was really fun. Aku bahkan merasa hal itu cukup dapat mengurangi kesedihan dan kelelahan aku secara mental.

Agustus 2022.

Entah kenapa berat badan aku naik dengan tajam. Enam bulan pertama, berat badanku stabil dan cenderung turun. Tapi, kenapa tiba-tiba naik signifikan di bulan ini? Aku agak khawatir. Aku kembali me-review apa yang aku makan, bagaimana cara olahragaku, dan sebagainya. Tapi, hasilnya nihil. Bulan selanjutnya, berat badanku naik dengan signifikan, sampai aku merasa kesulitan untuk melipat kaki.

September 2022.

Lengan kiriku terasa sakit. Sakit ini memang sudah terasa sejak aku di Bandung. Dulu aku pikir, "Ah, mungkin karena keseringan pake totebag bawa draft kasus atau textbook." Tapi, ternyata aku salah. Minggu itu, aku menangis tiap malam. Rasanya sakit. Linu. Aku ga bisa menggambarkan betapa rasanya aku ingin menangis dan teriak ketika aku dengan tidak sengaja menggerakkan tanganku tiba-tiba. Mengikuti kelas Yoga menjadi sebuah ketakutan karena biasanya setelah kelas Yoga, sakitnya akan makin terasa. Padahal aku yakin, aku tidak pernah memaksakan gerakan dan selalu memilih option termudah karena tujuan aku memang untuk olah raga, bukan untuk pamer pose di Instagram.

Aku memutuskan untuk mendatangi dokter spesialis syaraf di Rumah Sakit Borromeus. Ketika bertemu dokter, aku langsung bilang semua keluhan yang aku alami. Dokter cuma tersenyum dan melontarkan arahan, "Coba angkat tangan mana yang terasa sakit." Aku angkat tangan kiriku pelan-pelan. Dokter tersenyum dan menyuruhku untuk menurunkan tangan. Beliau langsung melontarkan hipotesis sementara kalau aku kebanyakan main handphone (dengan posisi menunduk). Jujur harus diakui kalau, ya benar, aku memang lebih sering bermain handphone. Apalagi sejak 2020 aku mengenal Mobile Legends. Selanjutnya aku diminta untuk melakukan rontgen di area leher untuk membuktikan dugaan sementara yang diberikan oleh dokter.

Hasil tidak berbohong. Dua ruas tulang leherku terdorong mundur (aku lupa, sepertinya nomor 4 dan 5). Dokter langsung mengambil handphonenya setelah melihat hasil rontgenku. Beberapa saat kemudian, beliau menunjukkan satu infografik terkait tulang leher. Di infografik tersebut dijelaskan ada berapa banyak ruas pada tulang leher dan apa efeknya jika terjadi "masalah".

Yup, telap. Ruas tulang yang "menonjol" itu berdampak pada area yang aku keluhkan. Di situ jujur rasanya sedih. Banget. Dokter kemudia bilang kalau perlu ada rontgen tambahan di area tulang punggung karena ada indikasi skoliosis, tapi tidak perlu saat itu dilakukan. Dokter memberikan resep obat racikan kepada ku, dengan harapan bisa meredakan sakit yang ku alami 

Aku tidak paham perobatan. Tapi, menurut netizen, obat-obat racikan aku ini akan punya dampak yang "powerful". Benar saja, tidurku semakin nyenyak dan ketika bangun aku merasa lebih segar. Di situ aku menemukan kebahagiaan meskipun sedikit. Satu masalahku selesai, begitu lah pikiranku saat itu. Tapi, sayangnya, aku harus mengurangi intensitas Yoga, karena setiap mengikuti kelas itu, selalu terasa sakit di area pundan dan belikat belakang. Entah kenapa untuk olah raga aerobik lain seperti Zumba, Body Combat, dan Body Jam tidak pernah terasa sakit setelahnya. Akhirnya aku relakan untuk mengurangi--dan akhirnya berhenti Yoga sampai saat ini.

November 2022.

Obat yang diberikan oleh dokter belum aku habiskan. Aku takut ketergantungan. Jadi ku minum 3 hari sekali. Di titik ini, berat badanku makin naik. Sudah naik 10 kg dibandingkan bulan Agustus.

Jujur, aku stress.

Kaos, kemeja, celana kain gak ada yang muat. Aku sempat beli 2 celana kain untuk mendukung kerja. Tapi, baru digunakan sebulan, sudah sempit. Padahal nomornya sudah dibeli yang dua ukuran lebih besar. Di sini aku makin stress. Dengan uang yang sangat terbatas, aku agak sedih karena harus mengeluarkan uang extra untuk pakaian.

Desember 2022.

Kaki sebelah kiri terasa sakit. Di bagian luar, entah dimana. Setiap habis jongkok atau duduk di antara dua sujud, ketika ingin bangun, rasanya "pedes". Sampai saat ini masih terasa, dan aku mqsih mencari apa penyebabnya. Sampai suatu ketika aku punya ketakutan untuk solat karena adanya perasaan sakit tersebut.

Januari 2023.

A LOT HAPPENING IN JANUARY.

Dari drama kerja sampai kehilangan anggota keluarga. Sebulan ini aku pun meninggalkan gym. Mungkin dari 31 hari di bulan Januari, aku cuma datang ke gym 2 kali. Tiba-tiba motivasi aku turun. Sering menangis. Marah. Moodku anjlok naik-turun seperti sedang naik rollercoaster. Aku sadar, dengan semua ini, sedikit demi sedikit akan "memakan" jiwaku. Sampai ketika aku lihat Instagram Stories salah satu teman, dimana dia masih menggunakan Goodreads.

Ketika melihat itu, aku jadi teringat kalau dulu aku cukup senang menggunakan aplikasi ini. Akhirnya aku pun memutuskan untuk membuka dan ada perasaan senang, meskipun tidak banyak. Dari situ, aku terpikir bahwa aku rasanya ingin kembali ke zona nyaman. Keluar zona nyaman sangat bagus untuk perkembangan diri, baik secara pengetahuan, pengalaman, dan karakter. Tapi, mungkin ini titik aku harus kembali.

Sebagai orang high achiever, membandingkan menjadi salah satu masalah yang bisa bikin stress sendiri. Dengan seringnya aku berada di media sosial, aku jadi banyak membandingkan.

Wah, orang ini olahraga badannya bagus.

Wah, dia kok udah buka praktik sendiri.

Wah, dia dapet kerjaan yang bagus.

Wah, dia udah bisa beli mobil baru.

Dsb.

Jujur, sedih. Apalagi banyak tuntutan lingkungan yang bikin aku selalu mengumpat, "Fuck you, lah." Dengan keadaan ekonomi dan lainnya di hidupku saat ini, aku rasa tidak bisa memenuhi ekspektasi. Aku gak bisa apa-apa. Orang tua selalu bilang, "Sabar. Yang penting kamu aman nanti pensiun." di saat aku mulai mengeluh tentang keadaan. Aku selalu balikin semua kata-kata itu, "Emangnya hidup buat pensiun aja? Hidup saat ini gimana? Rangga juga kan ingin punya barang-barang. Ongin punya rumah bagus. Tapi kalau cuma mikir pensiun aman tok, kok kaya sedih." Akhirnya malaikat Atid harus lembur untuk menuliskan dosa-dosa aku membantah orang tua. Malaikat Rokib kayanya langsung ambil cuti karena yakin aku gak akan melakukan hal terpuji dalam waktu dekat.

Balik ke zona nyaman.

Akhirnya aku merasa, sepertinya aku perlu kembali menjalankan rutinitas aku seperti dulu: baca buku, main game, dan nge-blog.

Sudah seminggu ini aku sibuk buat main game (Hey, akhirnya aku memutuskan untuk beli console gaming, yaitu Nintendo Switch, and it's really worth it), baca novel-novel receh, dan mencoba nge-blog. And here I am, writing the first blog after a long hiatus. To be honest, it feels so great, walaupun baru seminggu.

Ya, mungkin berada di Jakarta yang segalanya serba cepat bisa menaikan level diri kita, secara pribadi. Tapi, kembali ke zona nyaman untuk rehat juga perlu untuk menyiram kembali rohani kita agar bisa mempersiapkan pribadi kita untuk meraih level yang lebih tinggi.

Semoga kembali Istiqomah untuk sering blogging.

Jujur, aku kangen nulis kaya gini.

Dan doakan rehat aku ini berhasil. Kalau gak berhasil, aku gak tau harus apa lagi...

Januari 21, 2022

Sebelum Badai

 Halo, aku balik lagi.


Hehe, udah agak lama gak nulis blog.


Aku balik nulis karena aku rasa aku perlu menulis lagi karena akhirnya aku harus menulis untuk beberapa waktu ke depan untuk mengisi keluangan waktuku (?)


Tiga postingan pertama mungkin gak akan sesuai tanggal, karena aku ngerasa kemarin masih belum perlu nulis, tapi sekarang baru kepikiran, "Heyyy, it's your time to go back writing blog." dan di sini lah aku, balik menulis blog. Mungkin efek micro-blogging dan jenis sosial media lain bikin kegiatan menulis blog yang panjang sedikit banyak mulai aku tinggalkan.


Untuk postingan ini dan ke depannya aku akan menggunakan kata "Badai" gak tau kenapa, biar keliatannya keren aja, padahal gak sebadai itu...


**

Mei 17, 2021

Break a Heart

Mom, I just broke someone's heart.

Mamah selalu bilang, "Jangan sampai apa yang terjadi di keluarga ini, terjadi pula di hidup kamu" dan aku berjanji untuk menepatinya.

If there's someone loving you unconditionally, keep their heart, don't broke it.

But, I did it.

I broke someone's heart.

Aku gak tau apa yang terjadi sama aku beberapa bulan ke belakang. Aku merasa kehilangan arah. Setelah kejadian itu, aku baru sadar kalau ini bukan aku. Kenapa? Apa yang terjadi sama aku? Pembenaranku, aku merasa kesepian. Tapi, itu bukan suatu alasan yang valid. Aku salah. Tuhan sayang sama aku, mungkin dengan cara ini caranya, meskipun caranya dengan menghancurkan hati seseorang.

Aku minta maaf.

Tapi, aku rasa aku gak layak untuk dimaafkan. I don't deserve any forgiveness. I just ruin someone's heart; someone's life.

Dulu mungkin terpikir respon Mamah itu berlebihan. Tapi, kali ini aku merasakannya. It just hits me. Real hard.

I lost myself.

I don't even recognize who I am now.

I turned into some kind of heartless monster.

I put too much expectation on people.

I'm sorry.

I'm sorry.

I'm sorry.

If God let me asking for a wish, I wish I died right now.

April 05, 2021

Breakup

Baru saja mengalami kondisi "breakup."

Kejadian ini baru pertama terjadi di hidup aku. Meskipun baru beberapa hari terjadi, raanya cape banget. Tiap detik kalau gak aku kontrol mungkin aku bisa nangis terus. Emang bawaannya cengeng aja kali ya.

Sampai hari ini, sedih ini terasa berlarut-larut. Aku baru sadar kalau selama ini aku ga memanfaatkan waktu dan momen dengan maksimal. Kalau inget itu, rasanya ingin kembali ke masa lalu dan menikmati semuanya. Kalau aja aku tau waktu ku udah gak banyak lagi.

Awalnya, aku tau ini semua akan datang. Sebenernya udah tau liat selewat-selewat. Kemudian di harinya, respon ku pun, ya udah. Aku udah siap-siap dari lama tentang keadaan ini. Tapi, keesokan harinya, aku ngerasa ada sesuatu yang akan hilang. Belum hilang, tapi aku merasa hilang. Ketika sendiri, air mata mengalir. Oh, mungkin ini ya yang dinamakan sedih, pikir ku saat itu. Ternyata semua berlanjut sampai beberapa hari kemudian. Mengingat momen yang pernah dilalui, aku nangis lagi. Bahkan nangisnya parah. Seakan aku kehilangan sesuatu yang sangat berharga di dalam hidup aku.

Tapi, emang bener sih. Ini tuh adalah sesuatu yang berharga. Hal ini datang di saat yang tepat. Aku gak tau apa yang akan terjadi kalau aku gak menemukan ini. Mungkin 3 tahun ke belakang hidupku akan hancur gak terarah. Aku ingat, aku mengeluh untuk berhenti kuliah karena gak kuat dengan dramanya. Tapi, aku selalu diyakinkan untuk lanjut terus, bahkan terus didampingi sampai hari terakhir sidang, meskipun tak seruang, tak nampak.

**

Saat ini aku lagi ada di meja kerja. Dari pagi rasanya ingin nangis terus. Tadi sempet liat beberapa foto hasil tangkapan kamera, aku ingin nangis lagi. Kaki aku bergerak terus, cemas, ingin rasanya teriak terus menangis. Tapi, aku Insya Allah ikhlas. Biarkan aku ngerasain gimana rasanya sedih. Sedih kehilangan sesuatu. Sedih karena sudah gak akan bisa dimiliki lagi. Sebenarnya kan kita pun gak punya apa-apa. Semuanya akan kembali ke Tuhan. Aku mencoba ikhlas. Tapi, biarkan aku merasakan kesedihan ini, agar kelak aku bisa menghargai setiap momen dengan orang-orang di sekitar ku.

Bismillah, Insya Allah aku ikhlas.

Kamu, berjalan maju lah. Tak perlu kamu mengkhawatirkan ku.

I'll be fine...

Januari 30, 2021

Homesick

Baru seminggu jauh dari rumah untuk "merantau," tapi aku udah ngerasa homesick.

Dari dulu selalu ingin keluar rumah banget, tinggal sendiri, di kota lain, dengan kehidupan baru. Tapi ternyata sampai saat ini belum seindah yang aku bayangin... Mungkin juga karena saatnya lagi gak tepat-teparnya.

Selama seminggu ini, aku belum nemuin makanan yang pas banget sama aku. Aku pikir, aku bisa makan dimana aja dengan menu apa aja. Ternyata aku gak se-oke itu hahahaha. Mungkin karena terbiasa makan makanan dengan bumbu yang gak dihemat-hemat (royal), makanan di sini rasanya... Hambar. Gak bikin aku nafsu makan. Jadinya, aku makan pun cuma untuk memenuhi kebutuhan badan agar gak kelaparan dan gak mudah sakit.

Kemarin, aku sempet coba cuci kemeja putih di laundry kosan. Aku sadar sih, ekspektasi aku terlalu tinggi, apalagi dengan kondisi laundry pagi masuk dan sore selesai. Selama ini aku hidup di antara kesempurnaan yang orang tua aku kasih, terutama Mamah. Mamah selalu mastiin kalau pakaian anak-anaknya selalu dalam kondisi rapi, gak lecek sedikit pun. Alangkah kecewanya aku ketika hasil setrikaan laundry kosan banyak garisnya, gak beraturan, dan lecek. Tapi, aku memaklumi, di sini jumlah kamar kurang lebih ada 90 dan aku yakin betapa capeknya si mbak dan mas ngelakuin laundry tiap harinya.

Ku pikir aku akan tidur dengan lebih nyenyak, dimana setiap malam aku ga bisa tidur kalau di rumah karena Mamah mengeluh Dewa yang pulangnya selalu larut malam. Ternyata di sini tidurku jadi lebih tidak nyenyak. Tidur jam 11, bangun jam 5. Mungkin ada 2-3 kali aku terbangun dan sadar kalau aku sendirian. Mungkin ini rasanya kesepian itu. Dari hidup yang sangat penuh dan overwhelmed menjadihidup yang sendiri dan penuh kekhawatiran.

Aku bakal senang ga ya dengan jalan hidup ini?